Dari yang Pernah Terdidik

Capture

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei, mengambil tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, pejuang Pendidikan Indonesia pendiri Sekolah Taman Siswa. Sekolah yang memperbolehkan Penduduk Asli Indonesia mengenyam pendidikan ketika saat itu hanya orang Belanda saja yang boleh bersekolah.

Beliau terkenal dengan Patrap Triloka: ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”, ing madya mangun karsa “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”), dan satu lagi yang sering kita lihat tercetak di topi sekolah tut wuri handayani “dari belakang mendukung”. Yang seharusnya menjadi nilai yang dipegang dalam proses belajar-mengajar.

Bicara mengenai Pendidikan, salah satu yang saya ingat adalah saat ketika saya duduk di bangku sekolah, ujian kesukaan saya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya ada bagian yang mewajibkan Teruji untuk menuangkan pikiran ataupun imajinasi dalam bentuk karangan, cukup besar poinnya.

Tingkat SD, seingat saya, yang harus ditulis umumnya berbentuk imajinasi atau pengalaman, yang entah kenapa selalu Pengalaman Berlibur Ke Rumah Nenek di Salatiga lah yang saya tulis. Menuju SMA tulisan kita harus semakin realistis, menceritakan dan menanggapi isu yang berkembang saat itu.

Semakin tinggi tingkat kelas, menulis pada kolom uraian di kertas ujian terasa semakin menantang.

Menantang dan menyenangkan karena kamu tahu buah pikir originalmu tidak dapat kamu beli dengan: Les Bersama Wali Kelas Setahun Ajaran atau Bingkisan Mahal Oleh-oleh untuk Guru.

 

Mengapa Hari Kartini?


Selamat Hari Kartini!

Jangan jadi bangsa yang latah mengenakan atribut, mengucapkan selamat, tanpa sadar apa yang tersemat.

Kala Indonesia belum merdeka dan dijajah Belanda, Belanda melabeli orang asli Indonesia dengan sebutan Inlander alias Pribumi. Disadari atau tidak, pelabelan menuju pada segregasi mirip Politik Apartheid (pemisahan ras), Kulit Hitam-Putih, yang menempatkan seolah yang satu di atas yang lainnya. Yang entah mengapa menjadi hal yang dibanggakan saat ini, beberapa juga bangga dalam penderitaannya.

Saat itu Kartini masuk dalam lingkungan priyayi, karena Ibu Kandungnya adalah isteri pertama (meski akhirnya bukan menjadi isteri utama) dari Seorang Wedana di Mayong, yang karena menikah-lagi dengan Bangsawan maka diperbolehkan menjadi Bupati. Peraturan Kolonial kala itu.

Kartini sebagai anak perempuan tertua di keluarga priyayi diperbolehkan bersekolah di ELS, sehingga dapat belajar Bahasa Belanda dan berkawan dengan Rosa Abendanon, teman korespondensi dari Belanda. Dari Orang Asing Berbangsa Belanda (bangsa yang menjajah Indonesia kala itu) Kartini tertarik dan terbuka wawasan mengenai kemajuan berpikir Perempuan Eropa.

Hingga Kartini memiliki Visi Memajukan Perempuan Pribumi, yang mana saat itu dianggap berstatus sosial rendah: dipingit, kerjain kerjaan rumah saja, gak perlu belajar tinggi, dinikahkan dengan lelaki tak dikenal, harus bersedia dimadu. Jelas proyeksi ke depan dari seorang yang dunianya sempit bukan?

Satu hal yang bisa Kartini lakukan adalah Menulis. Memberi dari kelimpahan, melakukan yang kita sukai, justru dapat menginspirasi orang lain. Tulisan surat-surat Kartini dibukukan, seperti yang sering kita dengar “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar. Agak lucu ya, konsep penjajah-terjajah penolong-ditolong.

Pemikiran Kartini pada akhirnya mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Jawa, juga menginspirasi W.R. Soepratman mencipta lagu Ibu Kita Kartini, dan setiap 21 April Bangsa Indonesia peringati sebagai Hari Kartini.

Seharusnya kita bisa lebih kritis menanggapi Siapa yang menetapkan Hari Kartini? Mengapa Hari Kartini? Mengapa hanya Kartini, tokoh nasional yang diperingati secara nasional? (CMIIW) Yang lebih penting adalah mempelajari dari Sejarah: Apa saja hal yang harus kita peringati dan pelajari dari Kartini.

Satu hal yang saya pelajari dari Kartini: Menulis mengubah hidup dan pandangan banyak orang. Menulis sebagai seni yang sering dianggap remeh karena hanya terdiri dari hitam dan putih namun jarang disadari akan menorehkan banyak warna dalam pikiran manusia.

Semoga semakin banyak Guru di Indonesia yang tidak latah menyuruh murid memakai kebaya dan kostum sejenisnya, ini Hari Kartini bukan Hari Cosplay.

Harusnya Hari Kartini bukan “milik” Perempuan Indonesia saja, tapi juga Lelaki Indonesia. Hari Tentang Kemerdekaan Berpikir.

Selamat Hari Kartini, untuk Wanita dan Lelaki Indonesia!

Taman Impian di Atas Lembar Angan

WhatsApp Image 2017-03-31 at 9.46.22 AM

Berbekal pengalaman masa lalu, Gadis Kecil percaya diri untuk membangun taman impiannya. Dirancangnya blue print dalam kepalanya, sesekali dengan bantuan patahan ranting ditorehkannya sketsa sederhana di atas tanah, bunga lily di sisi kiri dipadu dengan bunga matahari. Patung anak kecil dibeberapa titik, tak lupa Air Mancur dambaannya yang tidak besar juga tidak kecil. Terbayang saat matahari terbit cahayanya menerobos sela bunga matahari, terbayang juga temaram cahaya saat matahari tenggelam, berpendar di sekitar Air Mancur.

Berbekal pengalaman masa lalu, disiapkannya pula pupuk, pembasmi hama, sampai rencana jika badai datang. Tak lupa disiapkan hati jika harus melihat kegagalan bunga tumbuh ataupun jika Air Mancur berlumut parah.

Menyenangkan memiliki Taman Impian seperti angannya. Aman. Ideal.

Manusia Salju di Bulan Juni

Masa kini terdiri dari untaian Masa Lalu, entah menyenangkan atau menyedihkan. Sedikit banyak pasti membentuk diri dimasa kini. Yang jelas jika gemilang bukan untuk terus dibanggakan, karena bagaimanapun telah berlalu. Jika malang pun bukan untuk terus diratap, karena syukur telah berlalu.

ini dongeng tentang masa lalu…
 
manusia salju

Gadis Kecil melihat hamparan langit biru

Hanya terik yang ia dapat
Suatu ketika dia mendapati, sesuatu jatuh ke hidung
putih, dingin, menggembirakan hati
Ia mengenalnya sebagai…

Salju…

Jatuh perlahan di sekitarnya
Bertambah hari ke hari
Semakin bahagia si Gadis Kecil ketika mengetahui salju membentuk diri menjadi…

Manusia Salju

Manusia Salju menemani si Gadis Kecil
Ia tersenyum
Ia bercerita
Ia tertawa
Ia menghibur
Sampai suatu saat,
Manusia Salju ingin Gadis Kecil mengubahnya menjadi…

Manusia Biasa

Gadis Kecil terdiam…

Pernah ia bersama malam tapi justru semakin mencekam
Pernah ia diam dalam hujan tapi hanya demam yang didapat
Semakin hari semakin besar Manusia Salju itu
Menemani Gadis Kecil bermain

Angin datang, matahari menguat bersinar

Manusia Salju kembali meminta
Gadis Kecil tetap tak menemukan
Meski ingin, tapi tak mengerti
Ia pun tahu tak mungkin meminta untuk tinggal
Entah menyublim
Entah mencair

Manusia Salju mulai menghilang

Gadis Kecil melihat hamparan langit biru

Dari Masa Lalu kita mengenang. Dari Masa Lalu kita belajar.
Berusaha mengubah adalah sia-sia, menerima adalah yang terbaik.
Berusaha berubah tidak akan sia-sia, penerimaan ada atas usaha terbaik.

Gadis Kecil dan Setengah Isi Kepala

 

20170329121545

“Hidup adalah Kesempatan”. Percaya tidak percaya, Gadis Kecil memutuskan mempercayainya. Alasannya mudah, ada rentang hidup yang harus dilalui dari Surga kembali ke Surga. Ya, jika sesuai dengan Rencana Khalik.

Dari Surga kembali Ke Surga, tidak mungkin dikirim ke dunia hanya untuk pepesan kosong. Atau kah dunia hanya ujian? Yang berhasil akan kembali ke Surga, yang gagal menuju Neraka? Sepertinya, Dia tidak sejahil itu.

Terlalu muluk kah mencapai kesimpulan bahwa seharusnya: ada tujuan dari Sang Khalik saat Gadis Kecil ditempatkan ke dunia.

Hidup adalah Kesempatan, Kesempatan memenuhi Tujuan dari Sang Khalik.

Mungkin salah satunya, dengan menuangkan Setengah Isi Kepala…