Guardian of The Galaxy

Bagi beberapa orang mencari Pasangan Hidup sering dianalogikan mencari pangeran/putri untuk masuk dalam sebuah kerajaan, dibumbui sedikit pertengkaran atau masalah, baikan, bersatu dilanjutkan dengan pesan penutup Happily Ever After.

Saya, entah kenapa selalu menganalogikannya dengan: mencari Partner dalam menjalankan Kapal Perang (semacam Guardian of The Galaxy) ūüöÄ

Untuk mencari partner yang tepat beberapa hal dilihat, pertama, harus taat dan tunduk pada Kapten yang sama, Yang Maha Kapten. Hal Mutlak. Karena bagaimanapun untuk saya itu prioritas yang utama.

Kemudian mencari tahu bagaimana dia menyikapi harta saat tidak ada, terlebih saat banyak terlebih lagi bagaimana cara dia mengelola harta yang dimiliki. Juga caranya mengapresiasi lawan jenis dan terbuka memberitahu kepada kita, namun tetap tahu batas untuk tidak memasukkannya dalam kapal perang ini (walau kadang sering aku bayangkan sebagai monster yang harus dibasmi ūüėĆ). Bagaimana dia memandang pentingnya Kedudukan atau Penghargaan dari orang, dan banyak hal lain juga harus diketahui.

DAri hal-hal tersebut akan mampu menjawab apakah dia dapat menjadi partner yang dapat santai menghadapi hidup, dipercaya, bekerja sama, dengan Pandangan Hidup yang selaras.

Yang minim drama, karena medan perangnya bukan di antara kami, tapi antara kami dengan dunia

to infinity and beyond!

Iklan

Tentang Sebuah Warna

sebelumnya, kamu ku benci, kuanggap norak
dipadankan dengan apa pun di mataku jelek adanya
terlalu muda pucat, terlalu tua bagiku menggelikan

hingga aku mengenalmu dengan nama yang lain
diantara seduh kopi, diantara patah hati
terlebih saat kamu muncul di antara sore dan malam, senja tidak lengkap tanpamu

hingga aku mengenalmu dengan nama yang lain
ku cari tahu tentangmu, bahkan di mesin pencari Google

J I N G G A

Saben Selawe

sabenselawe

DITEMBAK? Hmm.. tanggal 23. Selang beberapa hari aku tanya kenapa nembaknya gak ditanggal cantik (penting). Dengan sederhana dia bilang, “Ya udah kita ingetnya tiap tanggal 25 aja, kan waktu didoain leader di Gereja tanggal 27, jadi tengah-tengah”. Gak aku debat. Dua puluh lima, tanggal kelahiranku juga kelahirannya dan yang penting… tanggal gajian, siapa yang gak senang. Semua senang HORAY! #SabenSelawe

Dalam bahasa Jawa, Saben itu Setiap, Selawe itu Dua Puluh Lima. Jadi, semoga niat posting setiap tanggal 25 menjadi kenyataan. Well, jangan harap aku posting seperti Awkarin dan pasangannya (waktu aku siapkan tulisan ini Oka Mahendra belum meninggal), atau Reza Oktovian dan Wendy bukan gak mau tapi gak ada budget sama sadar diri HAHAHA.

Selawe. Saat mempelajari secara Etimologi ternyata Selawe dapat dijabarkan menjadi tiga kata: SEneng-senenge LAnang lan WEdok, senang-senangnya lelaki dan perempuan. Begitulah Bahasa Jawa memiliki keunikan dan filosofi pada kosakatanya, seperti:

  • GURU, ternyata punya filosofi ‘digugu lan ditiru’; diikuti dan dicontoh.
  • DALANG, ‘ngundang piwulang’; memberikan pengajaran.
  • GARWO atau dalam Bahasa Indonesia disebut Istri, ternyata punya filosofi ‘sigaraning nyowo’;  setengahnya nyawa, belahan jiwa.
  • dan masih banyak lagi

Selawe. Dua puluh Lima, usia rata-rata dimana biasanya manusia mulai serius memikirkan Pasangan Hidupnya. Beberapa web menyebutkan, usia Puncak asmara laki-laki dan perempuan, sehingga pada usia tersebut pada umumnya orang menikah.

Meski demikian jangan menikah karena usia, tapi menikahlah setelah yakin kamu dapat bertanggung jawab dengan pernikahanmu #ngelestapibener HAHAHA

Selawe. Tanggal dimana akan aku tulis segala hal yang menjadi pemikiran dan pengalaman bersama. Saben Selawe.

Sampai Jumpa di tanggal 25 selanjutnya!

 

 

Jakarta, 25 Juli 2017

-L-

INDONES(H)IA

Halo saya Lishia!

Saya gak seberapa paham dengan sejarah Indonesia, gak seberapa hafal dengan banyak undang-undang yang ada. Hanya paham saya lahir di Indonesia dan cinta Indonesia. Jadi apa yang saya suka dan bisa maka saya berikan untuk Indonesia. Seperti karya yang tercipta karena mengingat Pancasila, semoga kamu menikmatinya:


Credit :
Music Production : Jtones Music (@Jtonesmusic)
Talent Management : Jet Music Entertainment (@jetmusicentertainment)
Music Producer : Jusuf Winardi (@jusufwinardi)
Poetry & Voice Talent : Lishia Yunias (@lishiayunias)
Calligraphy : Chrisje (hichrisje)
Film Director & Videographer : Handreas Stefano (@handreastefano)
Additional Footage : Jonathan Gunawan (@joe.gunawan)
Audio Mixing & Mastering : Bonar Abraham (@bonarabraham)

Wangi di Kedai Kopi

Satu hal yang menarik dari kamu, wangimu.

Ya, selain cara berpakaianmu yang terkadang menunjukkan bahwa waktu yang ada lebih baik untuk membenahi pekerjaanmu yang tak kenal siang dan malam. Karena bagiku, Lelaki memang lebih baik seperti itu. Wangi tanpa parfume bukan juga dari pewangi pakaian. Wangi yang kadang seperti Kopi, kadang seperti Buku. Wangi yang sama-sama kurindukan sebagai teman melepas penat diakhir pekan. Seperti hari ini, Sabtu yang malas, semalas cahaya matahari menembus kaca jendela sebuah Kedai Kopi tempatku menunggu. Sendiri, karena kamu bilang tunggu aku, meski aku tak merasa menunggu karena bagiku kita adalah perjalanan bukan tujuan.

phonto (1).png

Bicara tentang wangi buku, itu yang menyebabkan aku tak menyukai E-Book meski dalam diri sering Sok Pecinta Lingkungan, membawa kantong sendiri untuk belanja di Supermarket meski kini tak perlu lagi mengeluarkan tambahan dua ratus rupiah, aturan pemerintah yang gagal konsisten hehe. Wangi buku mengingatkan aku pada masa kecil, dimana makanan yang tidak aku ingini pada akhirnya habis aku lahap seiring usainya lembar Majalah Bobo. Majalah yang menghantarkan aku mencintai Kata. Kata, menjadi teman akrab ketika aku menunggu kamu. Meski sering kali jadi membingungkan, aku Cinta pada Kata atau pada Kita, namun setiap melihat kamu, aku tahu: pada Kita ada segala Kata Cinta.

phonto.png

Biasanya menunggu ku di Kedai Kopi berakhir tanpa perlu melihat, karena aku hafal betul siapa yang menepuk pundakku, pemilik tangan yang telah menepuk hatiku. Tapi saat ini tak habis pikir, ini cemburu atau rindu menggebu, hanya kalbu yang tahu.

Sebentar berpikir, sepertinya aku cemburu terhadap hidup dan waktu. Sebentar berpikir, sepertinya rindu menggebu. Padahal biasanya setiap kamu ajak aku mengadu rindu, jelas aku tak mau, karena bagiku rindu bukan untuk diadu. Rindu itu Kamu.

IMG_1777.JPG

Sampai tersadar menunggu kali ini harus aku akhiri, karena wangi yang ada sebentar lagi usai.

Wangi terakhirmu, wangi bunga yang kau senangi. Bunga kecil putih yang kamu bilang terlihat sederhana namun banyak manfaat, bahkan menemani mengawali hari saat kau seruput tiap pagi bercampur dengan hangat teh, candamu: “ngingetin aku sama kamu”.

Wangi terakhirmu, membuatku mengerti usai untuk menanti. Wangi terakhirmu, Wangi Melati bukan di Kedai Kopi.

Hidup sering kali bicara tentang berkorban atas keinginan dan berdamai dengan kehidupan.

 

phonto (2).png

 

Jakarta, Juli 2017

Dari yang Pernah Terdidik

Capture

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei, mengambil tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, pejuang Pendidikan Indonesia pendiri Sekolah Taman Siswa. Sekolah yang memperbolehkan Penduduk Asli Indonesia mengenyam pendidikan ketika saat itu hanya orang Belanda saja yang boleh bersekolah.

Beliau terkenal dengan Patrap Triloka: ing ngarsa sung tulada¬†“(yang) di depan memberi teladan”,¬†ing madya mangun karsa¬†“(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”), dan satu lagi yang sering kita lihat tercetak di topi sekolah tut wuri handayani¬†“dari belakang mendukung”. Yang seharusnya menjadi nilai yang dipegang dalam proses belajar-mengajar.

Bicara mengenai Pendidikan, salah satu yang saya ingat adalah saat ketika saya duduk di bangku sekolah, ujian kesukaan saya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya ada bagian yang mewajibkan Teruji untuk menuangkan pikiran ataupun imajinasi dalam bentuk karangan, cukup besar poinnya.

Tingkat SD, seingat saya, yang harus ditulis umumnya berbentuk imajinasi atau pengalaman, yang entah kenapa selalu Pengalaman Berlibur Ke Rumah Nenek di Salatiga lah yang saya tulis. Menuju SMA tulisan kita harus semakin realistis, menceritakan dan menanggapi isu yang berkembang saat itu.

Semakin tinggi tingkat kelas, menulis pada kolom uraian di kertas ujian terasa semakin menantang.

Menantang dan menyenangkan karena kamu tahu buah pikir originalmu tidak dapat kamu beli dengan: Les Bersama Wali Kelas Setahun Ajaran atau Bingkisan Mahal Oleh-oleh untuk Guru.

 

Mengapa Hari Kartini?

img_0018
Selamat Hari Kartini!

Jangan jadi bangsa yang latah mengenakan atribut, mengucapkan selamat, tanpa sadar apa yang tersemat.

Kala Indonesia belum merdeka dan dijajah Belanda, Belanda melabeli orang asli Indonesia dengan sebutan Inlander alias Pribumi. Disadari atau tidak, pelabelan menuju pada segregasi mirip Politik Apartheid (pemisahan ras), Kulit Hitam-Putih, yang menempatkan seolah yang satu di atas yang lainnya. Yang entah mengapa menjadi hal yang dibanggakan saat ini, beberapa juga bangga dalam penderitaannya.

Saat itu Kartini masuk dalam lingkungan priyayi, karena Ibu Kandungnya adalah isteri pertama (meski akhirnya bukan menjadi isteri utama) dari Seorang Wedana di Mayong, yang karena menikah-lagi dengan Bangsawan maka diperbolehkan menjadi Bupati. Peraturan Kolonial kala itu.

Kartini sebagai anak perempuan tertua di keluarga priyayi diperbolehkan bersekolah di ELS, sehingga dapat belajar Bahasa Belanda dan berkawan dengan Rosa Abendanon, teman korespondensi dari Belanda. Dari Orang Asing Berbangsa Belanda (bangsa yang menjajah Indonesia kala itu) Kartini tertarik dan terbuka wawasan mengenai kemajuan berpikir Perempuan Eropa.

Hingga Kartini memiliki Visi Memajukan Perempuan Pribumi, yang mana saat itu dianggap berstatus sosial rendah: dipingit, kerjain kerjaan rumah saja, gak perlu belajar tinggi, dinikahkan dengan lelaki tak dikenal, harus bersedia dimadu. Jelas proyeksi ke depan dari seorang yang dunianya sempit bukan?

Satu hal yang bisa Kartini lakukan adalah Menulis. Memberi dari kelimpahan, melakukan yang kita sukai, justru dapat menginspirasi orang lain. Tulisan surat-surat Kartini dibukukan, seperti yang sering kita dengar “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar. Agak lucu ya, konsep penjajah-terjajah penolong-ditolong.

Pemikiran Kartini pada akhirnya mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Jawa, juga menginspirasi W.R. Soepratman mencipta lagu Ibu Kita Kartini, dan setiap 21 April Bangsa Indonesia peringati sebagai Hari Kartini.

Seharusnya kita bisa lebih kritis menanggapi Siapa yang menetapkan Hari Kartini? Mengapa Hari Kartini? Mengapa hanya Kartini, tokoh nasional yang diperingati secara nasional? (CMIIW) Yang lebih penting adalah mempelajari dari Sejarah: Apa saja hal yang harus kita peringati dan pelajari dari Kartini.

Satu hal yang saya pelajari dari Kartini: Menulis mengubah hidup dan pandangan banyak orang. Menulis sebagai seni yang sering dianggap remeh karena hanya terdiri dari hitam dan putih namun jarang disadari akan menorehkan banyak warna dalam pikiran manusia.

Semoga semakin banyak Guru di Indonesia yang tidak latah menyuruh murid memakai kebaya dan kostum sejenisnya, ini Hari Kartini bukan Hari Cosplay.

Harusnya Hari Kartini bukan “milik” Perempuan Indonesia saja, tapi juga Lelaki Indonesia. Hari Tentang Kemerdekaan Berpikir.

Selamat Hari Kartini, untuk Wanita dan Lelaki Indonesia!

Taman Impian di Atas Lembar Angan

WhatsApp Image 2017-03-31 at 9.46.22 AM

Berbekal pengalaman masa lalu, Gadis Kecil percaya diri untuk membangun taman impiannya. Dirancangnya blue print dalam kepalanya, sesekali dengan bantuan patahan ranting ditorehkannya sketsa sederhana di atas tanah, bunga lily di sisi kiri dipadu dengan bunga matahari. Patung anak kecil dibeberapa titik, tak lupa Air Mancur dambaannya yang tidak besar juga tidak kecil. Terbayang saat matahari terbit cahayanya menerobos sela bunga matahari, terbayang juga temaram cahaya saat matahari tenggelam, berpendar di sekitar Air Mancur.

Berbekal pengalaman masa lalu, disiapkannya pula pupuk, pembasmi hama, sampai rencana jika badai datang. Tak lupa disiapkan hati jika harus melihat kegagalan bunga tumbuh ataupun jika Air Mancur berlumut parah.

Menyenangkan memiliki Taman Impian seperti angannya. Aman. Ideal.

Manusia Salju di Bulan Juni

Masa kini terdiri dari untaian Masa Lalu, entah menyenangkan atau menyedihkan. Sedikit banyak pasti membentuk diri dimasa kini. Yang jelas jika gemilang bukan untuk terus dibanggakan, karena bagaimanapun telah berlalu. Jika malang pun bukan untuk terus diratap, karena syukur telah berlalu.

ini dongeng tentang masa lalu…
 
manusia salju

Gadis Kecil melihat hamparan langit biru

Hanya terik yang ia dapat
Suatu ketika dia mendapati, sesuatu jatuh ke hidung
putih, dingin, menggembirakan hati
Ia mengenalnya sebagai…

Salju…

Jatuh perlahan di sekitarnya
Bertambah hari ke hari
Semakin bahagia si Gadis Kecil ketika mengetahui salju membentuk diri menjadi…

Manusia Salju

Manusia Salju menemani si Gadis Kecil
Ia tersenyum
Ia bercerita
Ia tertawa
Ia menghibur
Sampai suatu saat,
Manusia Salju ingin Gadis Kecil mengubahnya menjadi…

Manusia Biasa

Gadis Kecil terdiam…

Pernah ia bersama malam tapi justru semakin mencekam
Pernah ia diam dalam hujan tapi hanya demam yang didapat
Semakin hari semakin besar Manusia Salju itu
Menemani Gadis Kecil bermain

Angin datang, matahari menguat bersinar

Manusia Salju kembali meminta
Gadis Kecil tetap tak menemukan
Meski ingin, tapi tak mengerti
Ia pun tahu tak mungkin meminta untuk tinggal
Entah menyublim
Entah mencair

Manusia Salju mulai menghilang

Gadis Kecil melihat hamparan langit biru

Dari Masa Lalu kita mengenang. Dari Masa Lalu kita belajar.
Berusaha mengubah adalah sia-sia, menerima adalah yang terbaik.
Berusaha berubah tidak akan sia-sia, penerimaan ada atas usaha terbaik.