Mengapa Hari Kartini?

img_0018
Selamat Hari Kartini!

Jangan jadi bangsa yang latah mengenakan atribut, mengucapkan selamat, tanpa sadar apa yang tersemat.

Kala Indonesia belum merdeka dan dijajah Belanda, Belanda melabeli orang asli Indonesia dengan sebutan Inlander alias Pribumi. Disadari atau tidak, pelabelan menuju pada segregasi mirip Politik Apartheid (pemisahan ras), Kulit Hitam-Putih, yang menempatkan seolah yang satu di atas yang lainnya. Yang entah mengapa menjadi hal yang dibanggakan saat ini, beberapa juga bangga dalam penderitaannya.

Saat itu Kartini masuk dalam lingkungan priyayi, karena Ibu Kandungnya adalah isteri pertama (meski akhirnya bukan menjadi isteri utama) dari Seorang Wedana di Mayong, yang karena menikah-lagi dengan Bangsawan maka diperbolehkan menjadi Bupati. Peraturan Kolonial kala itu.

Kartini sebagai anak perempuan tertua di keluarga priyayi diperbolehkan bersekolah di ELS, sehingga dapat belajar Bahasa Belanda dan berkawan dengan Rosa Abendanon, teman korespondensi dari Belanda. Dari Orang Asing Berbangsa Belanda (bangsa yang menjajah Indonesia kala itu) Kartini tertarik dan terbuka wawasan mengenai kemajuan berpikir Perempuan Eropa.

Hingga Kartini memiliki Visi Memajukan Perempuan Pribumi, yang mana saat itu dianggap berstatus sosial rendah: dipingit, kerjain kerjaan rumah saja, gak perlu belajar tinggi, dinikahkan dengan lelaki tak dikenal, harus bersedia dimadu. Jelas proyeksi ke depan dari seorang yang dunianya sempit bukan?

Satu hal yang bisa Kartini lakukan adalah Menulis. Memberi dari kelimpahan, melakukan yang kita sukai, justru dapat menginspirasi orang lain. Tulisan surat-surat Kartini dibukukan, seperti yang sering kita dengar “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar. Agak lucu ya, konsep penjajah-terjajah penolong-ditolong.

Pemikiran Kartini pada akhirnya mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Jawa, juga menginspirasi W.R. Soepratman mencipta lagu Ibu Kita Kartini, dan setiap 21 April Bangsa Indonesia peringati sebagai Hari Kartini.

Seharusnya kita bisa lebih kritis menanggapi Siapa yang menetapkan Hari Kartini? Mengapa Hari Kartini? Mengapa hanya Kartini, tokoh nasional yang diperingati secara nasional? (CMIIW) Yang lebih penting adalah mempelajari dari Sejarah: Apa saja hal yang harus kita peringati dan pelajari dari Kartini.

Satu hal yang saya pelajari dari Kartini: Menulis mengubah hidup dan pandangan banyak orang. Menulis sebagai seni yang sering dianggap remeh karena hanya terdiri dari hitam dan putih namun jarang disadari akan menorehkan banyak warna dalam pikiran manusia.

Semoga semakin banyak Guru di Indonesia yang tidak latah menyuruh murid memakai kebaya dan kostum sejenisnya, ini Hari Kartini bukan Hari Cosplay.

Harusnya Hari Kartini bukan “milik” Perempuan Indonesia saja, tapi juga Lelaki Indonesia. Hari Tentang Kemerdekaan Berpikir.

Selamat Hari Kartini, untuk Wanita dan Lelaki Indonesia!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s