Dari yang Pernah Terdidik

Capture

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei, mengambil tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, pejuang Pendidikan Indonesia pendiri Sekolah Taman Siswa. Sekolah yang memperbolehkan Penduduk Asli Indonesia mengenyam pendidikan ketika saat itu hanya orang Belanda saja yang boleh bersekolah.

Beliau terkenal dengan Patrap Triloka: ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”, ing madya mangun karsa “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”), dan satu lagi yang sering kita lihat tercetak di topi sekolah tut wuri handayani “dari belakang mendukung”. Yang seharusnya menjadi nilai yang dipegang dalam proses belajar-mengajar.

Bicara mengenai Pendidikan, salah satu yang saya ingat adalah saat ketika saya duduk di bangku sekolah, ujian kesukaan saya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya ada bagian yang mewajibkan Teruji untuk menuangkan pikiran ataupun imajinasi dalam bentuk karangan, cukup besar poinnya.

Tingkat SD, seingat saya, yang harus ditulis umumnya berbentuk imajinasi atau pengalaman, yang entah kenapa selalu Pengalaman Berlibur Ke Rumah Nenek di Salatiga lah yang saya tulis. Menuju SMA tulisan kita harus semakin realistis, menceritakan dan menanggapi isu yang berkembang saat itu.

Semakin tinggi tingkat kelas, menulis pada kolom uraian di kertas ujian terasa semakin menantang.

Menantang dan menyenangkan karena kamu tahu buah pikir originalmu tidak dapat kamu beli dengan: Les Bersama Wali Kelas Setahun Ajaran atau Bingkisan Mahal Oleh-oleh untuk Guru.