Tentang Sebuah Warna

sebelumnya, kamu ku benci, kuanggap norak
dipadankan dengan apa pun di mataku jelek adanya
terlalu muda pucat, terlalu tua bagiku menggelikan

hingga aku mengenalmu dengan nama yang lain
diantara seduh kopi, diantara patah hati
terlebih saat kamu muncul di antara sore dan malam, senja tidak lengkap tanpamu

hingga aku mengenalmu dengan nama yang lain
ku cari tahu tentangmu, bahkan di mesin pencari Google

J I N G G A

Saben Selawe

sabenselawe

DITEMBAK? Hmm.. tanggal 23. Selang beberapa hari aku tanya kenapa nembaknya gak ditanggal cantik (penting). Dengan sederhana dia bilang, “Ya udah kita ingetnya tiap tanggal 25 aja, kan waktu didoain leader di Gereja tanggal 27, jadi tengah-tengah”. Gak aku debat. Dua puluh lima, tanggal kelahiranku juga kelahirannya dan yang penting… tanggal gajian, siapa yang gak senang. Semua senang HORAY! #SabenSelawe

Dalam bahasa Jawa, Saben itu Setiap, Selawe itu Dua Puluh Lima. Jadi, semoga niat posting setiap tanggal 25 menjadi kenyataan. Well, jangan harap aku posting seperti Awkarin dan pasangannya (waktu aku siapkan tulisan ini Oka Mahendra belum meninggal), atau Reza Oktovian dan Wendy bukan gak mau tapi gak ada budget sama sadar diri HAHAHA.

Selawe. Saat mempelajari secara Etimologi ternyata Selawe dapat dijabarkan menjadi tiga kata: SEneng-senenge LAnang lan WEdok, senang-senangnya lelaki dan perempuan. Begitulah Bahasa Jawa memiliki keunikan dan filosofi pada kosakatanya, seperti:

  • GURU, ternyata punya filosofi ‘digugu lan ditiru’; diikuti dan dicontoh.
  • DALANG, ‘ngundang piwulang’; memberikan pengajaran.
  • GARWO atau dalam Bahasa Indonesia disebut Istri, ternyata punya filosofi ‘sigaraning nyowo’;  setengahnya nyawa, belahan jiwa.
  • dan masih banyak lagi

Selawe. Dua puluh Lima, usia rata-rata dimana biasanya manusia mulai serius memikirkan Pasangan Hidupnya. Beberapa web menyebutkan, usia Puncak asmara laki-laki dan perempuan, sehingga pada usia tersebut pada umumnya orang menikah.

Meski demikian jangan menikah karena usia, tapi menikahlah setelah yakin kamu dapat bertanggung jawab dengan pernikahanmu #ngelestapibener HAHAHA

Selawe. Tanggal dimana akan aku tulis segala hal yang menjadi pemikiran dan pengalaman bersama. Saben Selawe.

Sampai Jumpa di tanggal 25 selanjutnya!

 

 

Jakarta, 25 Juli 2017

-L-

INDONES(H)IA

Halo saya Lishia!

Saya gak seberapa paham dengan sejarah Indonesia, gak seberapa hafal dengan banyak undang-undang yang ada. Hanya paham saya lahir di Indonesia dan cinta Indonesia. Jadi apa yang saya suka dan bisa maka saya berikan untuk Indonesia. Seperti karya yang tercipta karena mengingat Pancasila, semoga kamu menikmatinya:


Credit :
Music Production : Jtones Music (@Jtonesmusic)
Talent Management : Jet Music Entertainment (@jetmusicentertainment)
Music Producer : Jusuf Winardi (@jusufwinardi)
Poetry & Voice Talent : Lishia Yunias (@lishiayunias)
Calligraphy : Chrisje (hichrisje)
Film Director & Videographer : Handreas Stefano (@handreastefano)
Additional Footage : Jonathan Gunawan (@joe.gunawan)
Audio Mixing & Mastering : Bonar Abraham (@bonarabraham)

Wangi di Kedai Kopi

Satu hal yang menarik dari kamu, wangimu.

Ya, selain cara berpakaianmu yang terkadang menunjukkan bahwa waktu yang ada lebih baik untuk membenahi pekerjaanmu yang tak kenal siang dan malam. Karena bagiku, Lelaki memang lebih baik seperti itu. Wangi tanpa parfume bukan juga dari pewangi pakaian. Wangi yang kadang seperti Kopi, kadang seperti Buku. Wangi yang sama-sama kurindukan sebagai teman melepas penat diakhir pekan. Seperti hari ini, Sabtu yang malas, semalas cahaya matahari menembus kaca jendela sebuah Kedai Kopi tempatku menunggu. Sendiri, karena kamu bilang tunggu aku, meski aku tak merasa menunggu karena bagiku kita adalah perjalanan bukan tujuan.

phonto (1).png

Bicara tentang wangi buku, itu yang menyebabkan aku tak menyukai E-Book meski dalam diri sering Sok Pecinta Lingkungan, membawa kantong sendiri untuk belanja di Supermarket meski kini tak perlu lagi mengeluarkan tambahan dua ratus rupiah, aturan pemerintah yang gagal konsisten hehe. Wangi buku mengingatkan aku pada masa kecil, dimana makanan yang tidak aku ingini pada akhirnya habis aku lahap seiring usainya lembar Majalah Bobo. Majalah yang menghantarkan aku mencintai Kata. Kata, menjadi teman akrab ketika aku menunggu kamu. Meski sering kali jadi membingungkan, aku Cinta pada Kata atau pada Kita, namun setiap melihat kamu, aku tahu: pada Kita ada segala Kata Cinta.

phonto.png

Biasanya menunggu ku di Kedai Kopi berakhir tanpa perlu melihat, karena aku hafal betul siapa yang menepuk pundakku, pemilik tangan yang telah menepuk hatiku. Tapi saat ini tak habis pikir, ini cemburu atau rindu menggebu, hanya kalbu yang tahu.

Sebentar berpikir, sepertinya aku cemburu terhadap hidup dan waktu. Sebentar berpikir, sepertinya rindu menggebu. Padahal biasanya setiap kamu ajak aku mengadu rindu, jelas aku tak mau, karena bagiku rindu bukan untuk diadu. Rindu itu Kamu.

IMG_1777.JPG

Sampai tersadar menunggu kali ini harus aku akhiri, karena wangi yang ada sebentar lagi usai.

Wangi terakhirmu, wangi bunga yang kau senangi. Bunga kecil putih yang kamu bilang terlihat sederhana namun banyak manfaat, bahkan menemani mengawali hari saat kau seruput tiap pagi bercampur dengan hangat teh, candamu: “ngingetin aku sama kamu”.

Wangi terakhirmu, membuatku mengerti usai untuk menanti. Wangi terakhirmu, Wangi Melati bukan di Kedai Kopi.

Hidup sering kali bicara tentang berkorban atas keinginan dan berdamai dengan kehidupan.

 

phonto (2).png

 

Jakarta, Juli 2017