Wangi di Kedai Kopi

Satu hal yang menarik dari kamu, wangimu.

Ya, selain cara berpakaianmu yang terkadang menunjukkan bahwa waktu yang ada lebih baik untuk membenahi pekerjaanmu yang tak kenal siang dan malam. Karena bagiku, Lelaki memang lebih baik seperti itu. Wangi tanpa parfume bukan juga dari pewangi pakaian. Wangi yang kadang seperti Kopi, kadang seperti Buku. Wangi yang sama-sama kurindukan sebagai teman melepas penat diakhir pekan. Seperti hari ini, Sabtu yang malas, semalas cahaya matahari menembus kaca jendela sebuah Kedai Kopi tempatku menunggu. Sendiri, karena kamu bilang tunggu aku, meski aku tak merasa menunggu karena bagiku kita adalah perjalanan bukan tujuan.

phonto (1).png

Bicara tentang wangi buku, itu yang menyebabkan aku tak menyukai E-Book meski dalam diri sering Sok Pecinta Lingkungan, membawa kantong sendiri untuk belanja di Supermarket meski kini tak perlu lagi mengeluarkan tambahan dua ratus rupiah, aturan pemerintah yang gagal konsisten hehe. Wangi buku mengingatkan aku pada masa kecil, dimana makanan yang tidak aku ingini pada akhirnya habis aku lahap seiring usainya lembar Majalah Bobo. Majalah yang menghantarkan aku mencintai Kata. Kata, menjadi teman akrab ketika aku menunggu kamu. Meski sering kali jadi membingungkan, aku Cinta pada Kata atau pada Kita, namun setiap melihat kamu, aku tahu: pada Kita ada segala Kata Cinta.

phonto.png

Biasanya menunggu ku di Kedai Kopi berakhir tanpa perlu melihat, karena aku hafal betul siapa yang menepuk pundakku, pemilik tangan yang telah menepuk hatiku. Tapi saat ini tak habis pikir, ini cemburu atau rindu menggebu, hanya kalbu yang tahu.

Sebentar berpikir, sepertinya aku cemburu terhadap hidup dan waktu. Sebentar berpikir, sepertinya rindu menggebu. Padahal biasanya setiap kamu ajak aku mengadu rindu, jelas aku tak mau, karena bagiku rindu bukan untuk diadu. Rindu itu Kamu.

IMG_1777.JPG

Sampai tersadar menunggu kali ini harus aku akhiri, karena wangi yang ada sebentar lagi usai.

Wangi terakhirmu, wangi bunga yang kau senangi. Bunga kecil putih yang kamu bilang terlihat sederhana namun banyak manfaat, bahkan menemani mengawali hari saat kau seruput tiap pagi bercampur dengan hangat teh, candamu: “ngingetin aku sama kamu”.

Wangi terakhirmu, membuatku mengerti usai untuk menanti. Wangi terakhirmu, Wangi Melati bukan di Kedai Kopi.

Hidup sering kali bicara tentang berkorban atas keinginan dan berdamai dengan kehidupan.

 

phonto (2).png

 

Jakarta, Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s